Selasa, 28 Januari 2014

negeri cincin api, berkah atau bencana?


Berkenaan dengan tema negeri cincin api: berkah atau bencana? Yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul yang masih misteri di nusantara di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena pada kenyataannya mayoritas orang di sekeliling saya dengan bangga menceritakan kehebatan negeri asing daripada negerinya sendiri, seolah benar-benar membenamkan mata dalam gelap untuk melihat potensi dan segala keindahan, kekayaan negerinya.
Indonesia memang bukan negeri maju, karena itu ia butuh kita bukan?
Entah apa motivasi para pemuja negeri asing, bisa saja karena pasrah, malu pada negeri sendiri, mau pindah warga negara, atau mungkin update perkembangan jaman.
Seorang teman yang berasal dari singapore kebetulan berjumpa dengan saya di sebuah komunitas sosial anak-anak jalanan. Percakapan singkat antara saya dan dia membahas kenapa ia mau menjadi relawan “dua hari” di sebuah komunitas sosial kolong jembatan, ternyata mendapat jawaban yang cukup membuat hati saya berteriak miris, jawabannya:
selama seminggu saya di Indonesia, saya belajar banyak hal dari sini, tidak ada yang bisa saya tinggalkan sebagai kenangan ucapan terima kasih saya atas semua pelajaran dan sambutan-sambutan hangat kalian kecuali ini.”
Sedih rasanya jika warga tetangga mengerti bagaimana cara berterima kasih kepada negeri kita, tapi warga negeri sendiri tidak mengerti bahkan tidak peduli bagaimana cara mencintai dan berterima kasih kepada negerinya sendiri. Negeri kita indah kawan, lihat ini:

 
Bahama? Bukan, ini balik papan

 
San fransisco? Bukan, ini jembatan suramadu

Turki? Bukan, ini pekanbaru, Riau. 

Eropa? Bukan, ini puncak tertinggi jayawijaya, Papua

Indah bukan? Mungkin hanya mata yang terbuka mampu melihat segala sisinya dengan rasa takjub.
Indonesia memang negara yang rentan terjadi gempa bumi karena tempat bertemunya tiga lempeng benua, mungkin juga Indonesia banyak terjadi pergolakan pemerintahan berujung perihal kekuasaan, tapi tuhan tidak akan menurunkan suatu kesulitan tanpa jalan keluar bukan? Indonesia bisa, itu alasan tuhan.
Saya sering berpergian hanya sekedar ingin mengetahui budaya suatu daerah, sedikit kilasan mengenai Madura dan Surabaya.
cak lon cak lon cak, cak.”
Hanya satu kalimat singkat seperti itu mempunyai dua makna yang berbeda di dua daerah yang jaraknya terbilang tidak terlalu jauh. Di daerah Madura kalimat tersebut berarti “jangan loncat-loncat cak” sedangkan di Surabaya bermakna “cak pelan cak” kata cak sama perihalnya kata abang di Jakarta.
Bayangkan ada berapa pulau di Indonesia, dan banyaknya bahasa yang mereka miliki di setiap pulau. Jika di tanya berkah atau musibah menjadi negeri cincin api, jawabannya tentu kembali pada setiap individual, bagaimana mereka menilai suatu lintang alam. Berbicara gunung berapi, tentu pikiran mayoritas orang langsung tertuju pada letusannya, sesungguhnya ada banyak nikmat yang terkadang kita lupa bagaimana cara mensyukurinya. beberapa hasil gunung berapi seperti batu apung, belerang, mempunyai nilai daya jual yang sangat tinggi, lihat bekas letusannya (material erupsi) mampu menghidupi ribuan jiwa melalui tanah-tanah yang subur, energi panas yang di hasilkan juga mampu menjadi pembangkit tenaga listrik.
Gunung berapi sudah seperti sendi-sendi kehidupan, seperti jantung yang mengalirkan darah merata hingga ke seluruh tubuh. selain itu, kebudayaan banyak lahir karena adanya gunung berapi, seperti beberapa adat agama yang menjadikan gunung berapi sebagai lahan pemujaan pada waktu-waktu tertentu.
Negeri cincin api, julukan yang indah, karunia yang sempurna, dan karya yang menakjubkan. Tidak ada lagi yang mampu terucap dari bibir, kecuali mengucap syukur, menengadahkan tangan seraya menghembuskan ribuan ucapan terima kasih kepada tuhan.
Bicara soal piramida di gunung lalakon, kawasan soreang, Bandumg, saya pernah menjumpai artikel yang di dalamnya membahas mengenai struktur yang tidak layak pada sebuah gunung, bentuk gunung lalakon memang mencerminkan seperti sebuah piramida, namun belum di ketahui secara pasti apakah terdapat sebuah piramida di dalamnya, pemerintah sebaiknya cepat tanggap mengenai masalah ini, karena saya jelas tidak mau warga negara asing terlebih dahulu berbaik hati melapangkan tangan menawarkan sebuah penelitian, padahal pemilik keajaiban itu sendiri acuh tak acuh, melipat tangan di depan dada sambil berkata “ah, saya lebih tertarik drama korea.”
Pada pertengahan februari tiga tahun silam, sebuah team dipimpin oleh pak Agung Bimo Sutedjo, jelas berniat kuat untuk membuktikan, meskipun hasilnya selalu berujung pada ketidak setujuan badan-badan berbau hukum, tapi sudah cukup meyakinkan bahwa setidaknya ada orang yang peduli akan potensi yang di miliki negeri cincin api ini.
Benarkah Indonesia adalah peradaban atlantis yang hilang?
Menurut penelitian ilmuan bernama Plato, dulunya atlantis adalah pusat peradaban dunia, letak atlantis di kelilingi oleh dua samudera yang menyatu yaitu samudera hindia dan samudera pasifik, di kelilingi oleh gunung-gunung yang aktif, namun terjadinya letusan gunung secara serentak, tsunami besar, mengakibatkan atlantis tenggelam.
Berikut ini sedikit ulasan Plato tentang atlantis “ada sebuah pulau besar, disana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruh daratan yang di kelilingi samudera, itu adalah kerajaan atlantis.”
Akhirnya penelitian terakhir yang di lakukan oleh Prof. Aryslo Nunes dos Santos menyatakan bahwa atlantis adalah wilayah yang bernama Indonesia saat ini. Ini terbukti dari beberapa hal, yakni:
Pertama, jumlah rantai gunung yang berada di Indonesia adalah gunung yang besar dan masih aktif.
Kedua, semburan gunung meletus yang abunya tercampur air laut kemudian meresap kedalam daratan atlantis yang tenggelam, hal ini terbukti saat tragedi lumpur lapindo Sidoarjo, hasil penelitian menyatakan bahwa semburan lumpur tersebut adalah bekas semburan letusan gunung di masa lampau.
Ketiga, wilayah Indonesia di kelilingi samudera.
Lalu, apakah masih di pertanyakan Indonesia negeri cincin api, berkah atau musibah? Jika dulu atlantis adalah pusat peradaban dunia, buktikan bahwa atlantis yang kini kembali menjelma sebagai Indonesia bisa menjadi pusat peradaban dunia di tangan pemuda pemudi yang tangguh.
Problematika yang melanda negeri kita bukan terletak pada kurangnya alam berbagi kekayaan pada kita, tapi tentang kurang pekanya kita bersahabat dengan alam. Jangan hanya pesimis mengenai bencana-bencana yang menimpa kita karena alam belakangan ini, tapi cobalah lebih arif, maka kita akan mengerti arti kehidupan sesungguhnya.
Alam bisa saja bosan bersahabat dengan kita, jika kita terus-terusan mementingkan diri sendiri. Bersyukurlah atas apa yang alam beri bagi kita, lakukan timbal balik dengan ikut menjaga keseimbangannya.
Negeri kita memang indah, tapi indah bukan berarti tak pernah redup. Negeri ini butuh pemuda pemudinya untuk mengharumkan namanya, menjulangkan citanya, mengibarkan benderanya.
Indonesia butuh kita!
Catatan:
Tulisan ini di buat untuk mengikuti lomba blog kaum muda bicara Indonesia di http://www.darwinsaleh.com ,tanpa jiplakan karya orang lain.
Beberapa ulasan atlantis di ambil dari beberapa buku, dan web
Beberapa gambar di ambil dari http://www.postlicious.com/2013/08/141.html
#kaummudabicaraIndonesia 



 

Blog Template by YummyLolly.com